Kolom 1. Al Fateka
AL-FATEKA
Indonesia kini sedang
berduka, bencana ada dimana mana. Alam menunjukkan kemurkaannya kepada manusia.
Renungan didalam Bus mengisi waktu perjalananku Purwokerto-Jogja. Melihat hari
semakin sore, tak ada salah nya jika saya merogoh Hp. Instagramlah yang kubuka,
melihat explore instagram ternyata ada video terbaru mengenai Jokowi. Apakah
iitu ?
Presiden Joko Widodo,
membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVII tahun 2018 di Medan pada
8 Oktober 2018 lalu. Dalam pidatonya ia mengajak para hadirin memanajatkan Do’a
untuk korban bencana di Sulawesi Tengah. “Ala hadinniyah, Al Fateka” ucap Jokowi.
Sontak menjadi perhatian para hadirin karna pengucapan nya tersebut. Pak Jokowi
itu sebenaranya ingin mengucapkan Al fatihah, namun dikarenakan aksen Jawa nya
yang medok ia menyebut Al Fatihah menjadi Al-Fateka. Dan sejumlah undangan yang
hadir tidak langsung menuruti permintaan Jokowi. Tetapi malah tertawa sembari
menyebut al Fatihah dengan nada seolah olah memperbaiki ucapan Jokowi tadi.
Namun apakah salah dalam
penyebutan kata Al Fatihah ini merupakan hal yang wajar?
Menurut sebagian orang Jawa,
kalimat Al Fateka yang diucapkan Jokowi itu merupakan hal yang wajar. Karena
sudah lumrah khususnya di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogya hingga Solo, terdengar
kalimat Alfateka untuk Alfatihah. Bahkan, ada yang menyebut ‘Ngalkamdulillah’
untuk menyebut ‘Alhamdulillah’ serta kata “ghoiril maghdu” dibaca goiril
mag’du. Seorang penulis, Dedik Priyanto, mengatakan, huruf Ain dalam bahasa
arab sering berubah menjadi ngain ketika dieja oleh orang Jawa. Demikian halnya
kalimat ‘Mazid’ menjadi ‘Majid’, atau huruf ‘ha’ menjadi ‘ka’. Menurut nya penyebutan
huruf yang tidak tepat itu seharusnya bisa dimaklumi karena pengaruh logat jawa.
Budayawan Bulukumba, Andika Mappasomba, menyebutkan, di Bugis juga seringkali
didengarkan penyebutan makhrajil huruf Arab yang tidak tepat karena pengaruh
logat bugis. “Misalnya di Bulukumba, jamak orang menyebut ‘kulluhalla’ (untuk
qulhuwallahu), atau ‘alhangdu’ (untuk menyebut kalimat Alhamdulillah), hingga
‘yaasing’ (surah Yasin),” terang dia.
Wakil Ketua Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Zainut Tauhid pun angkat bicara. Menurutnya, Al Fatihah
merupakan nama surat pertama dalam Al-Quran, jika ditulis dan dilafalkan maka
menjadi 'Al-Fatihah'. Memang sering kali pelafalan itu dipengaruhi oleh dialek
daerah atau disebut memiliki lahjah. Namun jika kaitannya dengan ayat sucu
Al-Qur’an maka diusahakan untuk tidak dipengaruhi oleh dialek apapun. Dalam hal
ini, Al-Fatihah adalah nama surat pertama dalam Al-Quran, bukan ayat.
"Jadi lahjah atau dialek seperti ini kalau berkaitan
dengan ayat suci Al-Qur'an diusahakan sesuai dengan makhroj hurufnya. Tapi
kalau itu bukan ayat al-Quran boleh,"
Namun salah pengucapan dalam pidato jokowi ini merupakan
kekeliruan yang kesekian kali. Seperti pidatonya di peresmian pembukaan
Tanwir Muhammadyah 2017 sekaligus
peresmian Klinik Apung Saitule dalam pembukaan pidato ia mengatakan “Alhamdulillah
wasyukurillah La kalaw kalaw kata illa
billah ” yang seharusnya adalah
Alhamdulillah wasyukurillah La hawla wala kuwwata illabiillah. Tak hanya itu
ketika kampanye Capres RI 2014, Mantan Sekda DKI Fadjar Panjaitan ternyata
pernah mengingatkan Jokowi yang salah dalam berwudhu sebelum Shalat Jumat. "Fadjar
melihat cara wudhu Jokowi salah, trus diingatkan. Ternyata Jokowi tak terima.
Setelah salat Jumat Fajar dipanggil menghadap#represif," tulis Ragil
Nugroho di akun Twitter-nya, @ragilnugroho1, Minggu (4/5). Selain itu beredar
pula video Jokowi salah melafalkan bacaan surah Al Fatihah ketika mengimami
shalat Magrib. Jika di dengar secara seksama ada ayat yang kurang lengkap
diucapkan yaitu “sirotholladzina-an amta
alaihim.. dibaca : sirotholladzina-amta alaihim, dalam konteks ini Jokowi
menghilangkan ayat "an".
Semua kejadian itu
merupakan hal yang seharusnya bisa kita maklumi karena tidak ada manusia yang
luput dari kesalahan. Apalagi soal pelafalan yang erat hubungan nya dengan
aksen daerah. Namun setiap manusia memiliki cara pandang yang berbeda beda
mengenai hal tersebut, apalagi Jokowi adalah seorang pemimpin negara yang gerak
geriknya selalu menjadi sorotan masyarakat. Pepatah mengatakan Nila setitik
rusak susu sebelanga. Apabila melakukan sedikit kesalahan, maka akan merusak
seluruh citra yang sudah dibentuk. Apapun yang dilakukan dan diucapkan
seseorang akan mencerminkan kualitas dirinya, yang membuat seseorang itu dapat
dipercaya dan diandalkan. Dengan integritas diri yang dimiliki maka kompetensi
bisa lebih terarah untuk menghasilkan kinerja baik dan berkualitas.
Komentar
Posting Komentar